Aneka Makanan Medan

Aneka Makanan Medan

71
0
SHARE
loading...
Rate this post

SELEBUZZ.CO.ID – Menawarkan serentetan tempat makan penggoda selera yang tak ada habisnya, Medan adalah destinasi kuliner sejati di Indonesia.

Orang Medan gila makan. Fakta ini setidaknya dikonfirmasi oleh Bulog, yang menyatakan bahwa Sumatera Utara adalah provinsi dengan tingkat konsumsi nasi tertinggi di Indonesia. Bukti lain lagi, begitu menginjakkan kaki di Bandara Polonia, kita akan langsung melihat kerumunan orang yang membawa bungkusan suvenir berupa makanan. Jika di Bali yang terlihat mungkin kotak-kotak bertuliskan “Krisna”, maka di Medan yang tampak adalah emblem “Bolu Meranti”.

Baharuddin, Executive Chef Grand Aston City Hall Medan, menggambarkan dengan sempurna gairah makan warga Medan tersebut: “Di Medan, semua orang adalah koki. Mereka benar-benar mengerti dan mencintai makanan. Saya tidak boleh lengah ketika memasak untuk mereka. Saya pernah bekerja di Jakarta, Surabaya, dan Lombok, tapi hanya di Medan harus sedetail ini. Di acara pernikahan, dekorasinya boleh cacat, lampunya boleh tidak sempurna, tapi makanan tidak boleh salah. Makanan adalah sumber kebanggaan orang Medan.”

Wisata kuliner dimulai di salah satu sentra makanan terbesar di Medan: Pecinan, tempat yang, uniknya, steril dari aksara Cina maupun dekorasi khas Tionghoa. Tanda terjelas Anda berada di Pecinan adalah puluhan gerobak kaki lima yang memenuhi tepian jalanan saban malam, komplet dengan lampu-lampu terangnya dan bahan-bahan mentah yang berbaris di etalase.

Di Jalan Semarang, beberapa menu telah menapaki status legenda, contohnya bihun bebek dan nasi Simangunsong, nasi khas Medan yang berisi ayam goreng tepung, udang jumbo, kangkung cah petis, dan nasi teri. Yum! Enaknya lagi, kedua hidangan ini dibanderol dengan harga kurang dari Rp 30.000 per piring.

Sementara di Selat Panjang, restoran-restoran yang telah beroperasi sejak 1940-an mengumbar cita rasa yang sulit ditolak. Dua punggawanya adalah Mie Tiong Sim yang berumur 72 tahun dan Kede (Kedai) Bubur yang berumur 70 tahun. Mie Tiong Sim menyajikan bakmi dan pangsit, sedangkan Kede Bubur menyajikan bubur kental yang dilengkapi irisan daging ayam kampung dan kuning telur.

Jika Anda penggemar martabak, maka Martabak Mesir Buffet Ahmad Salim di Jalan Arif Rahman Hakim tidak boleh dilewatkan. Inilah Martabak Mesir terlezat di Medan versi Sous Chef Swiss-Belinn Medan, Warta Ismail Maruhawa. “Dijamin,” umbarnya. “Kalau tidak enak, saya yang bayar!” Satu gerai martabak lain yang layak disambangi adalah Martabak Terang Bulan di Jalan S. Parman, sebelum Cambridge City Square. Kata sang penjual, gerai martabaknya merupakan yang pertama di Medan.

Bermodal pengalaman sebagai koki professional dan insting yang tajam, Chef Warta memandu saya untuk melacak kantong-kantong kuliner terbaik lainnya di Ibukota Sumatera Utara. Rekomendasi pertamanya: Warung Nasi Ibu Sri di Jalan Polonia. Restoran ini menyediakan menu superlatif: gulai kepala ikan (kakap) berisi kepala ikan yang ukurannya nyaris menyamai kepala saya.

Berikutnya kami singgah di RM P. Sidimpuan yang menyajikan masakan pesisir khas Tapanuli Selatan. Sosoknya sekilas mirip rumah makan Padang, namun begitu menggigit menu andalannya, ikan sale, perbedaannya terasa jelas. Ikan sale memakai bahan lele limbet yang hanya bisa ditemukan di Tapanuli Selatan. Menu lainnya yang wajib dicoba adalah ikan mas arsik dan daun umbi tumbuk.

Satu lagi restoran khas Tapanuli yang menarik dikunjungi adalah RM. Sipirok di Jalan Sunggal, daerah Glugur. Restoran yang kerap dikunjungi oleh para pejabat ini menyajikan menu unggulan sup sum sum, komplet dengan sedotan untuk menyedot sari sum-sum dari tulang kaki berukuran jumbo. Jika Anda kehabisan sup sum-sum (datang sebelum pukul 11:30 jika tidak mau kehabisan), masih ada Sop Sumsum Langsa di Jalan Setiabudi No. 17B.

Kuah yang tak kalah segar disajikan oleh Soto Kesawan, tempat suci bagi pencinta soto Medan. Ada tiga cabang yang bisa dipilih: Jalan A. Yani (depan Tjong A Fie Mansion), Sei Batang Hari (Wisma Harikita), dan Jalan Surabaya. Pesaingnya adalah Soto Sinar Pagi di Sei Deli Medan. Restoran mungil ini pernah disambangi banyak media dan penggila makanan, termasuk bapak kuliner Indonesia, Bondan Winarno.

Suka makanan India? Silakan ke Kampung Madrasah (Kampung Keling) dan berwisata lidah di Pagaruyung. Selagi di Kampung Madrasah, carilah warung Tahu Isi Ny. Endang di Simpang Muara Takus. Sepanjang Ramadan, tempat ini beroperasi sejak siang hingga sore dan senantiasa sumpek dipenuhi manusia yang mengantre layaknya hendak menonton Transformers. Tahu isinya yang juicy memang sukses membuat banyak orang kecanduan.

Untuk urusan oleh-oleh, silakan singgah di daerah Majapahit untuk menemukan Bolu Meranti, Bika Ambon Zulaikha, dan Risol Gogo. Tapi turis berpengalaman umumnya lebih memilih Jalan Kalimantan untuk membeli Bolu Kalimantan Mas, yang menurut beberapa sumber lebih legit dan murah. Panekuk Durian juga merupakan primadona wisatawan, tapi harus diperhatikan masa kedaluwarsanya yang hanya empat jam.

(end)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY