Bebatuan dan Tombak Menombak

Bebatuan dan Tombak Menombak

70
0
SHARE
SONY DSC
loading...
Rate this post

SELEBUZZ.CO.ID – Jenazah disemayamkan di kubur batu, kuda poni berkeliaran di lembah hijau, kaum pria saling melempar tombak. Sumba, mengundang Anda untuk merasakan sensasi primal yang selamat dari infiltrasi modernisasi. Dwi Putri Ratnasari menjelajahinya.

Sopir membombardir telinga dengan lagu-lagu daerah dalam ekspedisi saya menuju Sumba Barat. Saat berjuang untuk tidur, seorang teman mengirim pesan singkat yang menanyakan kabar saya di Sumbawa. Agak sebal memang, sudah berkali-kali saya jelaskan kepadanya bahwa Sumba dan Sumbawa adalah dua pulau yang berbeda.
Usai menghabiskan tiga jam perjalanan dan uang Rp 50.000, saya akhirnya mendarat di Waikabubak, Ibukota Kabupaten Sumba Barat. Matahari langsung menembakkan sinarnya saat saya beranjak dari kendaraan. Saya lalu meluncur ke Kampung Tarung, salah satu kampung adat yang terletak di tengah kota.

Wulla Poddu adalah bulan suci. Seluruh penganut Marapu (kepercayaan lokal) harus menjalankan berbagai ritual dan mematuhi sejumlah pantangan, contohnya tidak memukul gong, membangun rumah, ataupun berpesta. Sepanjang Wulla Poddu pula banyak orang berburu babi hutan, untuk kemudian hasilnya dipersembahkan kepada rato atau tetua adat. Rato selanjutnya akan menerawang hewan buruan guna mendapatkan wangsit tentang prediksi hasil panen di tahun mendatang. Di Kampung Tarung, tradisi semacam ini masih dipraktikkan.

Mesin motor meraung-raung saat mendaki jalan aspal. Kampung Tarung memang dibangun di permukaan tinggi. Memasuki gerbang desa, saya seperti sedang menekan tombol rewind di mesin waktu. Jika beberapa menit sebelumnya saya melihat rumah-rumah berdinding bata, barisan toko, dan terminal yang dijejali truk, kini yang tampak adalah kubur batu tua dan rumah-rumah beratap ilalang.

Rumah adat Marapu atau uma alang mengemban fungsi ganda: sebagai tempat tinggal dan wadah seremoni. Rumah ini kadang disebut juga “rumah tiga alam”, sebab strukturnya terbagi dalam tiga tingkat. Bagian bawah digunakan untuk menampung hewan peliharaan seperti ayam dan babi. Lantai tengah dipakai sebagai tempat tinggal. Sementara sisi atas yang berbentuk menara difungsikan sebagai gudang barang berharga sekaligus kediaman para roh leluhur. Dibutuhkan upacara khusus untuk membangun atau memperbaiki sebuah rumah alang.

Yuliana menyambut kami layaknya saudara kandung. Usianya 30-an tahun, kulitnya gelap, dan senyumnya lebar khas orang Indonesia Timur. Saya menghubunginya seminggu sebelum terbang ke Sumba. Dia dikenal sebagai pemandu yang berpengalaman dalam melayani para pelancong mancanegara.

Yuliana membawa saya ke kubur batu yang berada di tengah Kampung Tarung. Tiap rumah umumnya memiliki kuburan semacam ini. Batu-batu besar diambil dari alam, dipahat, lalu dijadikan makam.

Di sejumlah daerah, batu telah diganti oleh semen, tapi praktik semacam ini diharamkan oleh penganut Marapu puritan. Satu-satunya elemen modern yang mereka terima dalam tradisi pemakaman adalah kendaraan. Jika dulu batu harus ditarik beramai-ramai oleh warga desa, kini bisa diangkut menggunakan truk atau mobil pickup menuju rumah duka.

Kubur batu terletak di pelataran rumah, tidak di kompleks khusus. Penataan itu ditujukan agar almarhum dan keluarganya tetap berdekatan meski kini menempati alam yang berbeda. Mungkin ini pula sebabnya masyarakat tidak pernah memandang kuburan sebagai obyek yang menakutkan. Anak-anak bermain di sekitar makam adalah pemandangan jamak. Yuliana bahkan mengajak saya duduk-duduk di atas salah satu kubur batu. Untuk pertama kalinya, saya bersantai di kuburan.

Satu kubur batu bisa memuat beberapa jenazah sekaligus. Sebelum dimakamkan, jenazah dibalut dengan kulit kerbau, hewan yang punya posisi penting dalam kebudayaan Marapu. Kerbau adalah tolok ukur kemapanan seseorang. Makin panjang tanduk seekor kerbau, makin tinggi harga jualnya, dan makin terpandang status si pemiliknya. Harga seekor kerbau dengan tanduk sepanjang lengan orang dewasa bisa menembus Rp 20 juta.

Saat terjadi kematian, sanak saudara almarhum akan menyumbang kerbau. Saat seseorang menikah, ia menjadikan kerbau sebagai mas kawin. Jumlahnya bisa melebihi 10 ekor. Hukum adat memang harus dipatuhi meski kadang tuntutan materinya sulit dicerna logika orang awam.

Gemuruh merayap dari Bukit Sudan. Kaki-kaki kuda sandalwood pony mengguncang tanah, para joki berteriak-teriak, tombak-tombak berseliweran di udara. Ini bukan adegan dalam film The Lord of the Rings, melainkan pergelaran Pasola.

Tubuh saya dibasahi keringat. Terus berlari mencari tempat aman untuk mengambil gambar, sembari memantau arah jatuhnya lembing. Pasola bukan ritual artistik di mana penonton duduk manis sembari menyaksikan pementasan. Di sini, kita bisa menjadi pelengkap penderita. Tertusuk tombak adalah risiko yang harus diterima.
Para joki duduk di atas pelana yang dibuat dari karung beras, tapi mereka sangat lincah bermanuver. Dalam kondisi melesat di atas kuda, mereka mampu menjaga keseimbangan saat melemparkan tombak ke arah lawan atau saat menghindarinya. Mayoritas pria Sumba sudah mahir berkuda sejak kecil.

Banyak fotografer datang ke Sumba demi menyaksikan Pasola. Mereka kadang harus menginap cukup lama akibat waktu penyelenggaraannya yang tidak bisa dipastikan. Berbeda dari tanggal Natal yang mengikuti kalender Masehi, tanggal Pasola ditentukan oleh para rato lewat sebuah pertapaan atau semadi. Salah satu tanda alam yang kerap dijadikan rujukan para tetua adat tersebut adalah keluarnya nyale atau cacing laut di pantai. Walau demikian, secara umum, Pasola diadakan antara Februari dan Maret di empat tempat, yaitu Wanokaka, Kodi, Gaura, dan Lamboya, tempat saya berada kini.
Di tengah laga yang kian panas, tiba-tiba penonton bersorak dalam nada euforia. Rupanya salah satu lembing menyerempet pelipis wajah peserta peristiwa yang ditunggu-tunggu dalam Pasola, layaknya dunk Michael Jordan dalam laga bola basket. Penonton di kanan dan kiri saya dengan semangat menceritakan kronologis lemparan jitu tersebut.
Tak butuh waktu lama, atmosfer gembira itu berubah 180 derajat. Puluhan orang berlarian menjauhi arena. Seorang teman langsung menarik tangan saya. Senyuman menghilang dan wajah-wajah cemas terpampang. Kerusuhan dimulai.

Kelompok yang tidak terima anggotanya terluka, mulai mengamuk. Batu-batu beterbangan. “Kebanyakan Pasola diakhiri dengan kerusuhan,” ujar kawan saya. “Kalau tidak begitu, mereka tidak akan berhenti melempar lembing.”

Menurut legenda setempat, Pasola dimulai sebagai hiburan bagi seorang pria yang ditinggal istrinya. Dalam perkembangannya, ia menjadi ritual adat yang digelar tiap tahun. Jadi, Pasola sejatinya bukanlah perang. Tak ada kalah atau menang di sini. Jika pun ada korban, pelakunya tidak dituntut di pengadilan. Dan jika keluarga si almarhum menaruh dendam, vendeta hanya boleh dilakukan lewat Pasola di tahun berikutnya. Pasola adalah ajang kejantanan bagi pria Sumba.

(end)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY