Corak Baru dalam Batik

Corak Baru dalam Batik

54
0
SHARE
loading...
Rate this post

SELEBUZZ.CO.ID – Mengagumi dunia batik Pekalongan yang penuh dengan warna-warni

Siapa tak kenal batik? Ketika namanya disebut, sejumlah kota mungkin terlintas dibenak kita. Jogja? Solo? Pekalongan? Kota-kota ini memang pusat penghasil batik. Tapi Pekalongan memiliki kelebihan, terutama dalam hal kreativitas, fleksibilitas, desain, dan motifnya. Tak mengherankan bila sejumlah kalangan di dunia perbatikan menilai batik tulis Pekalongan adalah nomor wahid. Bahkan saking besarnya pengaruh batik dalam kehidupan masyarakat kota pesisir ini, Pekalongan pun bergelar “Kota Batik”.

Batik tulis Jogja dan Solo memang sangat dipengaruhi oleh keraton. Dibalik motif dan desainnya, terdapat berbagai cerita dan filosofi. Ini yang menyebabkan kedua jenis batik tulis ini memiliki nilai tinggi. Sementara Pekalongan memiliki motif yang lebih beragam. Corak dan warnanya yang dinamis. Bunga, hewan (seperti burung, kupu-kupu), naga, dan buketan (flower bouquet Eropa) adalah sedikit di antara beberapa motifnya. Bahkan ada juga “Batik Tulis Hokokai”. Ya, batik jenis ini mendapat pengaruh dari Jepang yang sempat mampir sebentar di negeri kita dulu.

Sejarah batik ini berawal dari Perang Diponegoro di abad ke-19 yang menyebabkan banyak penduduk meninggalkan kerajaan menuju berbagai kota di Jawa, di antara mereka termasuk para pebatik. Lokasi yang relatif jauh dari keraton, ditambah besarnya pengaruh budaya Cina, Arab, Belanda, dan Jepang, seakan membuat para perajin batik di kota pesisir ini lebih bebas berkreasi. Bahkan sejumlah pengusaha dan pebatik keturunan Cina, Arab, dan Belanda juga ambil peranan. Eliza van Zuylen, Lien Metzelaar dan Oey Soe Tjoen adalah nama-nama besar di zaman keemasan. Jadi, cerita dibalik motif dan desain batik tulis Pekalongan justru lebih kepada gambaran bagaimana penggabungan berbagai budaya luar berinteraksi dengan budaya batik Jawa.

Kedungwuni dan Wiradesa adalah beberapa sentra batik tulis Pekalongan. Namun, sekedar menjumpai perajin batik tulis di zaman serba modern dan instan ini tidaklah mudah. Melongok proses pembuatan batik tulis pun menjadi pengalaman langka. Banyak dari mereka yang bekerja di rumah-rumah. Di sini, sejumlah ibu-ibu biasanya bekerja di sebuah ruang yang cukup besar. Masing-masing memegang canting, dengan sekitar dua sampai lima orang mengelilingi satu wajan berisi cairan malam/wax yang dipanaskan.

Setelah dicelupkan ke dalam wajan, canting ditiup agar membran cairan terbuka, lalu canting digoreskan ke kain mori primis. Proses ini berulang-ulang. Tak ada canda-tawa. Semua serius, konsentrasi, hanyut dalam proses yang sangat menuntut ketelitian ini. Sungguh mengagumkan melihat kepiawaian tangan-tangan terampil itu. Tak banyak yang menyadari jerih payah pebatik dalam menyelesaikan selembar kain mori dua meter itu. Para pebatik wanita ini bekerja delapan jam sehari, duduk tanpa menyandar dengan kondisi tempat bekerja yang boleh dibilang sederhana. Usiapun dihabiskan dengan membatik.

Warna-warna yang dinamis dan berani, membuat batik tulis Pekalongan menjadi menarik. Desain motifnya yang cenderung sederhana seakan keluar dari pakem dan memunculkan kesan modern look. Desain motif baru pun terus bermunculan, hasil kolaborasi dengan desainer zaman sekarang yang seakan tak pernah kering ide dan kreasi. Itulah yang membuat batik tulis Pekalongan berbeda. Warisan budaya leluhur yang selalu mampu beradaptasi dengan zaman dan bahkan menjadi trend setter.

(end)

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY