Gunung Bromo

Gunung Bromo

120
0
SHARE
loading...
Rate this post

SELEBUZZ.CO.ID – Warga Tengger meredam amarah penguasa Gunung Bromo dengan melemparkan sesaji ke kawah. Salah satu ritual animisme yang masih lestari di tanah Jawa. Dwi Putri Ratnasari menyaksikannya.

Joko Seger dan Roro Anteng gelisah. Sudah lama menikah, pasangan ini tak juga dikaruniai momongan. Keduanya lalu naik ke puncak Gunung Bromo dan berdoa kepada Dewata. Permohonan itu terkabul. Lebih dari terkabul. Joko dan Roro tak cuma mendapatkan satu anak, melainkan 25. Tapi anugerah luar biasa itu disertai syarat yang sangat berat: si bungsu harus dikorbankan ke kawah Bromo.

Singkat cerita, pasangan itu ingkar janji. Dewata lantas murka. Lava di perut Bromo menggelegak. Anak terakhir Joko dan Roro diambil paksa oleh lilitan lidah api. Sebelum tubuhnya ditelan api cair, si bungsu sempat berteriak agar orangtuanya menggelar upacara peringatan kematiannya setiap bulan Kasada, persisnya di antara malam ke-14 dan 15 peringatan yang kemudian dikenal dengan nama Yadnya Kasada.

“Itu cerita rakyat yang kami percayai selama ini,” ucap Sutomo, dukun dari Desa Ngadisari. Dia mengaku bersuku Tengger, keturunan langsung dari Joko dan Roro. Saya menemuinya beberapa jam sebelum prosesi puncak Yadnya Kasada digelar. Rumah Sutomo disibukkan oleh enam orang pembuat ongkek-ongkek, persembahan untuk dewa, yang terdiri dari daun, bunga, batang pisang, dan jagung.

Pada tengah malam, rangkaian se-saji akan diarak, lalu dilempar ke kawah Bromo. Ngadisari bukan satu-satunya desa yang terlibat dalam prosesi ini. Lebih dari 40 desa yang kini didiami Suku Tengger ikut terlibat.

Kabut membalut tubuh dan menusuk tulang. Ini fenomena jamak, tapi warga Tengger tidak pernah surut semangatnya meski harus beribadah sambil menggigil. Titah leluhur wajib dipa-tuhi atau dewa akan murka. Tahun lalu, Kasada dihadang badai pasir, hingga saya pun tak mampu mengeluarkan kamera.

Tahun ini, Yadnya Kasada dihelat dari 3-4 Agustus. Jadwalnya selalu berubah tiap tahun, sebab warga merujuk pada penanggalan Surya Candra (matahari dan bulan) yang berbeda dari penanggalan Masehi. Meski begitu, upacara ini selalu diadakan di malam purnama.

Sehari sebelum malam puncak Yadnya Kasada, beberapa dukun bersimpuh di Pura Luhur Poten, sekitar 500 meter dari Bromo, guna melayani umat. Tiap desa memiliki minimum satu dukun. Warga dari desa-desa nan jauh menghampiri mereka sembari membawa sesaji dalam gendongan kain atau wadah plastik. Sesaji umumnya berisi hasil bumi dari ladang atau sawah. Tapi ada juga yang membawa ayam dan kambing. Sebelum dilarung, semua persembahan bagi dewa harus disucikan oleh dukun.

Ongkek-ongkek dari Desa Ngadisari pimpinan Pak Sutomo dijadwalkan turun ke lautan pasir pada pukul satu dini hari. Banyak orang telah menanti sejak pukul 24 agar bisa bergabung dalam rombongan mereka.

Ongkek-ongkek kini diarak menuju Pura Luhur Poten. Di tengah jalan, peserta berhenti di beberapa tempat dan memberi penghormatan kepada leluhur. Walau udara sangat dingin, mereka mampu berjalan de-ngan cepat. Padahal sebagian hanya memakai kaus dan sarung. Tubuh warga sepertinya sudah beradaptasi dengan suhu beku.

Mendekati pukul empat subuh, ongkek-ongkek yang telah didoakan di pura dibawa menuju kawah. Musik-musik rakyat mengiringi parade. Saat mendaki lereng, warga mengandalkan obor untuk menerangi jalan. Tak mudah mengimbangi kegesitan mereka. Di tengah hari saja, tangga Bromo sukar ditaklukkan. Apalagi tangga ini belum diperbaiki usai tergerus abu vulkanis panas tahun lalu.

Saya kehabisan napas dan beristirahat sejenak. Pura Luhur Poten sudah tenggelam dalam halimun. Dari ufuk timur, sinar jingga mulai menyapa langit. Menonton sunrise adalah ritual favorit pelancong di Bromo. Tapi kali ini saya mengharapkan matahari untuk alasan yang berbeda: menghangatkan tubuh.

Saya berhasil mencapai bibir kawah. Ratusan orang berdiri di sisi dalam lereng kawah untuk menangkap sesaji yang dilem-parkan peserta upacara. Yadnya Kasada hanya memerintahkan warga untuk melempar sesaji. Ini tindakan simbolis. Setelah dilempar, sesaji boleh diperebutkan siapa saja. Warga sadar, dewa sejatinya tidak membutuhkan daun, bunga, pisang, atau jagung. Dia hanya ingin manusia mematuhi perintahnya, betapapun merepotkannya perintah tersebut.

(end)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY