Masa Keemasan

Masa Keemasan

50
0
SHARE
loading...
Rate this post

SELEBUZZ.CO.ID – Terletak di antara Laut Jepang dan barisan pegunungan Hakusan yang dianggap suci, lahan basah keemasan Kanazawa melestarikan masa lalu Jepang.

Berada di pusat kota tidak pernah terasa sedamai ini. Saya pun melongok ke kolam kecil dengan atap timah hitam kokoh berundak yang berusia 800 tahun. Inilah Kinjo Reitaku, sumur di sudut salah satu taman yang paling dipuja di Jepang. Sumur ini juga merupakan sumber dari kota yang pernah sangat berkuasa, yang memancar bagaikan sumber air yang meluap-luap di seputarnya.

Menurut legenda, ketika seorang petani bernama Imohori Togoro tengah menggali kentang, dia menemukan serpihan-serpihan emas di lahan basah ini. Maka mulai berkembanglah daerah permukiman Kanazawa. Kota ini memiliki nilai seni dan budaya yang amat tinggi hingga menandingi Kyoto pada zaman Edo (1603 -1867). Karena letaknya yang terpencil di kawasan pantai utara, kemunduran Kanazawa justru melestarikannya sebagai permata negeri ini.

Saat ini adalah awal musim gugur. Kawasan Kenroku-en berubah menjadi merah sebelum angin dari Siberia menebarkan salju ke seluruh penjuru kota yang memancarkan nuansa romantis sepanjang tahun ini.

Salah satu tempat yang menawarkan suasana romantis dan membangkitkan nostalgia adalah Kinjohro, sebuah ryokan (penginapan) kayu tradisional yang dikelola turun temurun sejak awal dibangun pada akhir 1800-an. Pelayanan di penginapan ini bahkan melampaui standar pelayanan Jepang yang tinggi. Ryokan ini terletak di dekat Fuji-Ishi, sebuah batu kesayangan Toyotomi Hideyoshi, seorang samurai dari abad ke-16 yang terkenal karena menyatukan berbagai faksi politik yang ada di Jepang. Batu yang berbentuk Gunung Fuji itu terletak di sebuah taman Jepang klasik yang sangat sesuai dengan nuansa kuno ryokan ini.

Hidangan makan malam di sini terdiri dari 10 macam masakan yang disajikan dengan tampilan memikat. Semua hidangan mempertahankan citarasa masakan rumahan para pedagang dari zaman feudal. Hidangan lautnya berasal dari semenanjung Noto yang tak jauh dari situ, sake dari lembah Gunung Hakusan, dan sayuran dari perkebunan lokal Kanazawa.

Setelah mencicipi citarasa tempo dulu, Anda dapat berjalan menyusuri Sungai Asanogawa. Karena airnya yang mengalir lembut membelai bebatuan di dasar-nya, maka sungai ini dijuluki sungai onna (perempuan). Saya sungguh terkesan. Di seberang jembatan Asanogawa Ohashi terletak kawasan geisha yang masih aktif, jalan bebatuan yang sejajar dengan rumah-rumah kayu, dan rumah minum teh.

Anda singgah untuk menyeruput teh maccha di Ruang Upacara Minum Teh Emas Kaikaro Teahouse, di mana sekitar 50 geisha yang masih ada di kota ini secara teratur menghibur tetamu. Emas Kanazawa yang tersohor sekarang ditempa menjadi lembaran-lembaran setipis kertas. Benda yang berharga ini bahkan sering ditemukan mengambang di dalam teh Anda, sebagai tonik untuk kesehatan dan vitalitas.

Kanazawa cukup nyaman untuk dijelajahi dengan berjalan kaki. Setelah semalaman tidur di atas futon Kinjohro yang nyaman, Anda dapat berjalan melewati parit Otebori yang mengelilingi puri dan dinding curam berumput menuju Puri Kanazawa. Puri ini dikenal sebagai salah satu yang paling mencolok di Jepang. Bukannya bertingkat seperti piramid, bangunan utama yang megah dan kokoh ini berbentuk lonjong seperti istana dari marmer putih dengan menara pengawas yang beratap hitam di tiap ujungnya.

Setelah menikmati suasana kota yang luas namun syahdu ini, langkahkan kaki menjelajahi Kenroku-en dengan melewati gerbang Ishikawa-mon. Gerbang ini beratap tiga tingkat, gerbang dalam berlantai dua, dan halaman dalam. Bangunan yang megah ini aslinya berada di atas kolam lotus, tetapi sekarang merupakan pintu gerbang ke dalam taman yang dulunya berupa taman pribadi puri ini.

Keheningannyalah yang sesungguhnya menakjubkan. Dua puluh lima hektar ketenangan membentang di setiap langkah kita. Detil-detil kecil dibentuk dengan teliti oleh para ahli penata taman yang mengenakan caping atau sugegasa. Mulai ditata tahun 1676, Kenroku-en mendapatkan namanya dari buku “Chronicles of the Famous Luoyang Gardens” atau Sejarah Taman-Taman Luoyang yang Tersohor oleh penyair Cina Li Gefei. Melambangkan enam karakteristik taman yang sesungguhnya: kelapangan, keterlindungan, seni, kekunoan, sungai, dan panorama.

Bagian barat daya kota ini benar-benar merupakan kubu serdadu. Kawasan Samurai Nagamachi dikelilingi dinding tanah yang menjatuhkan bayangannya ke atas kanal-kanal yang berasal dari awal Masa Edo. Pakaian dan pedang samurai, ruang duduk dari kayu eru dan lukisan dari kertas shoji di atas pembatas ruang yang menampilkan pemandangan pada masa keemasan Kanazawa yang seolah tak pernah berakhir.

Dua puluh lima menit ke barat kota adalah tempat pilihan warga untuk menghabiskan libur. Sumber air panas Kaga Onsen yang menenangkan, alami, dan telah dikunjungi orang selama 1.300 tahun. Pemandian ini terletak di lembah yang muncul dari puncak Gunung Haku setinggi 2.702 meter, salah satu dari Tiga Gunung Suci di Jepang (bersama Gunung Fuji dan Gunung Tate). Pertama-tama mandilah di Kosoyu, sebuah rumah pemandian umum dari kayu yang telah direstorasi. Dilanjutkan dengan mendaki ke perbukitan di belakang Kuil kuno Hattori. Dari sini, barisan pegunungan nampak seperti ombak di kejauhan yang membeku dan berubah menjadi batu.

Makan malam di Ginan Kai Kaga terdiri dari hidangan laut lokal yang lezat, baik dimasak maupun mentah, seperti sashimi ikan nodoguro, sashimi amberjack, dan sea-bream. Tetapi, untuk hal yang paling istimewa di Kai Kaga kita harus berterimakasih kepada pemanen kentang Imohori Togoro. Perawatan facial menggunakan lembaran emas murni yang mengeluarkan ion untuk meningkatkan metabolisme dan mencerahkan kulit. Metafora yang tepat dari hasrat kita untuk mempertahankan masa keemasan kita sendiri.

(end)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY