Patriotisme Rasa Hollywood

Patriotisme Rasa Hollywood

52
0
SHARE
loading...
Rate this post

SELEBUZZ.CO.ID -“Merah Putih II: Darah Garuda” mengajak publik mengenang jasa pahlawan lewat layar bioskop. Pakar-pakar asing di belakang kamera menjanjikan aksi perang ala Hollywood.

Tembak-tembakan. Ledakan pesawat. Letusan bom. Seru! Inilah modal ”Merah Putih II: Darah Garuda” dalam memikat penonton. Film yang disutradarai Yadi Sugandi dan Connor Allyn ini merupakan kelanjutan dari ”Merah Putih” yang ditayangkan tahun lalu. Seri ketiga dijadwalkan akan dirilis tahun depan. Trilogi ini mengangkat tema dasar serupa: perjuangan meraih kemerdekaan dari tangan penjajah, dengan bumbu persahabatan, percintaan, dan humor.

”Merah Putih II” mengambil momen hari raya kemerdekaan yang jatuh pada 17 Agustus. Momen peluncurannya digeser atas pertimbangan komersial: di bulan Ramadan, yang kebetulan berlangsung dari Agustus hingga September, masyarakat cenderung malas pergi ke bioskop.

Sebagian besar pemain dari seri pertama dipertahankan. Lukman Sardi, Darius Sinathrya, Donny Alamsyah, dan Teuku Rifnu Wikana tetap bermain sebagai kadet muda yang berjuang keluar masuk hutan untuk melawan Belanda. Pada ”Merah Putih II”, cerita berkembang dengan digelarnya pertemuan antara para pejuang dengan kelompok separatis Islam di bawah pimpinan seorang kiai karismatik yang dimainkan aktor senior Alex Komang. Selain perang di laut, darat, dan udara, film yang memakan waktu syuting 28 hari ini juga menyisipkan sejumlah drama dan humor segar yang menjadikannya tontonan yang lengkap.

Biaya produksi film ini konon menembus angka fantastis Rp10 miliar. Selain untuk membayar bahan peledak, properti, serta sederet aktor dan aktris kondang, dana besar tersebut juga dipakai untuk mengupah nama-nama besar yang bekerja di balik layar. Ada ahli efek khusus Adam Howarth (”Saving Private Ryan” dan ”Blackhawk Down”), pakar senjata John Bowring (”The Matrix” dan ”Australia”), asisten sutradara Andy Howard (”From Hell” dan ”Wanted”), serta teknisi ahli efek khusus Graham Riddell (”Robin Hood” dan ”Star Wars 1”). Mereka seolah menjadi jaminan akan dahsyatnya laga yang bakal tersaji di layar bioskop.

Connor Allyn memastikan karyanya akan lebih banyak menyajikan adegan perang yang mendebarkan. “Kami sangat percaya diri dalam bekerja, karena didukung oleh team artistik terbaik di Indonesia,” katanya.

Tapi ”Merah Putih II” bukan lahir untuk sekadar menghibur publik dengan aksi perang ala Hollywood, namun juga untuk mewartakan pesan-pesan patriotisme dan nasionalisme di tengah maraknya karya-karya bertemakan horor dengan bumbu seks di sana-sini dan film-film bertemakan remaja yang ceritanya melulu soal cinta. “Produser berpesan kepada saya untuk menonjolkan nilai-nilai nasionalisme, kecintaan pada Indonesia,” ujar Yadi Sugandi.
Tak semua trilogi sukses di pasar. Tantangannya memang besar. Hanya rasa penasaran yang membuat penonton kembali untuk menyaksikan kelanjutan cerita dari film pertama.

Dan penonton yang belum menonton film pertama bisa jadi malas menonton film kedua. Tapi ”Merah Putih II” punya misi mulia. Inilah yang membuatnya terlihat percaya diri.

Lagipula, tidak tiap bulan publik bisa menyaksikan film sejarah yang digarap tangan-tangan dingin Hollywood.

(end)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY