26 C
Jakarta
Friday, December 14, 2018
Tembus Level Rp 148,5 Juta, Bitcoin Berisiko Alami “Bubble”?

Tembus Level Rp 148,5 Juta, Bitcoin Berisiko Alami “Bubble”?

55
0
SHARE
loading...
5 (100%) 1 vote

selebuzz.co.id – Nilai mata uang virtual bitcoin sepanjang tahun ini mengalami peningkatan yang sangat tajam. Akan tetapi, ada risiko “bubble” terkait nilai bitcoin.

Hal tersebut diungkapkan oleh Deputi Gubernur Bank of England Sir Jon Cunliffe. Bubble sendiri adalah kondisi di mana harga melonjak sangat tinggi dan akhirnya berdampak kepada stabilitas keuangan.

Mengutip BBC, Kamis (30/11/2017), nilai bitcoin telah menembus rekor 11.000 dollar AS atau setara sekitar Rp 148,5 juta. Namun demikian, meski nilainya melonjak tajam, volatilitas nilai bitcoin pun tinggi.

Cunliffe adalah deputi gubernur bidang stabilitas finansial pada bank sentral Inggris tersebut. Ia mengatakan, ketika harga naik sangat cepat, investor harus berpikir dengan sangat hati-hati.

Meskipun demikian, Cunliffe berpandangan peningkatan nilai bitcoin tidak cukup besar untuk menggoyang perekonomian. Pasalnya, tidak seperti mata uang tradisional, bitcoin tidak diterbitkan oleh bank sentral atau pemerintah sebuah negara.

Nilai bitcoin sudah meroket lebih dari 1.000 persen sejak awal tahun 2017. Mata uang digital tersebut sudah sangat fluktuatif dengan liar sejak diluncurkan pada tahun 2009.

Para kritikus menyatakan bitcoin akan mengalami bubble. Sementara itu, sejumlah pihak lainnya memandang peningkatan nilai bitcoin karena mata uang digital itu menembus arus umum finansial.

“Orang harus tahu dengan jelas bahwa ini bukan mata uang resmi. Tidak ada bank sentral yang mendukungnya, tidak ada pemerintah yang mendukungnya,” ujar Cunliffe.

Ia berpandangan, bitcoin lebih cenderung seperti komoditas ketimbang mata uang. Sebab, orang-orang memilih untuk berinvestasi pada bitcoin dan memperdagangkannya.

Nilai mata uang virtual seperti bitcoin dan ethereum sejak awal tahun mengalami peningkatan yang amat signifikan. Bahkan, nilai bitcoin sudah menyentuh 10.000 dollar AS atau sekitar Rp 135 juta.

Lalu, bagaimana pandangan Bank Indonesia (BI) terhadap mata uang virtual tersebut?

Gubernur BI Agus DW Martowardojo menyebut, bank sentral bakal menerbitkan aturan bagi pelaku layanan keuangan berbasis teknologi (financial technology/ fintech) termasuk e-commerce.

Aturan ini guna melaksanakan prinsip kehati-hatian, menjaga persaingan usaha, pengendalian risiko, dan perlindungan konsumen. Level playing field atau lingkup usaha dengan lembaga keuangan formal juga perlu dijaga.

Salah satu hal yang diatur dalam aturan tersebut adalah larangan penggunaan mata uang virtual oleh pelaku fintech maupun e-commerce. Pemrosesan mata uang virtual pun dilarang.

“Kami melarang penyelenggara tekfin dan e-commerce serta penyelenggara jasa sistem pembayaran menggunakan dan memproses virtual currency, serta bekerja sama dengan pihak-pihak yang memfasilitasi transaksi menggunakan virtual currency,” kata Agus pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Jakarta, Selasa (28/11/2017).

Hal ini sebut Agus, dilakukan guna mencegah pencucian uang, pendanaan terorisme, dan menjaga kedaulatan rupiah sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia.

“Kami juga bisa mencegah peluang arbitrase, praktik bisnis tak sehat, dan pengendalian bisnis oleh pihak-pihaik di luar jangkauan hukum NKRI yang dapat merusak struktur industri,” kata Agus.

(end)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY